BREAKING NEWS

Bripda Dirja Pratama Tewas Dianiaya Senior, Satu Tersangka Ditangkap

Redaksi Februari 24, 2026 0 Komentar
Bripda Dirja Pratama Tewas Dianiaya Senior, Satu Tersangka Ditangkap

JUST
INFO, MAKASSAR — Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan. Bripda Dirja Pratama (19), seorang bintara muda Direktorat Samapta (Ditsamapta) Polda Sulsel, dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (22/2/2026) setelah sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Daya, Makassar.

Kapolda Sulsel kini memastikan bahwa kematian pemuda tersebut disebabkan oleh penganiayaan yang terjadi di dalam asrama kepolisian sendiri.

Peristiwa bermula pada dini hari Minggu (22/2/2026), di Asrama Polisi (Aspol) Kompleks Polda Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Biringkanaya, Makassar. Bripda Dirja dilaporkan terlihat tidak berdaya usai menunaikan salat subuh.

"Ada anggota Bripda DP selesai salat subuh terlihat sakit, kemudian dibawa ke RSUD Daya Makassar," ujar Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto.

Kondisi korban sangat mengkhawatirkan. Sebelum dibawa ke rumah sakit, korban disebut mengeluarkan darah dari mulutnya. Meski sempat mendapatkan penanganan medis, nyawa Bripda Dirja tidak dapat diselamatkan.

Jenazahnya kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk menjalani pemeriksaan visum dan autopsi forensik guna memastikan penyebab kematian secara ilmiah.

Sempat beredar informasi yang menyebut korban meninggal karena membentur-benturkan kepalanya sendiri ke tembok. Namun, Kapolda Sulsel, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro, dengan tegas membantah laporan tersebut.

"Kita tidak percaya begitu saja pada laporan tersebut. Melalui pembuktian saintifik, tim penyidik menemukan ketidaksesuaian fatal antara laporan itu dengan fakta di lapangan," tegasnya.

Hasil pemeriksaan medis oleh Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulsel mengonfirmasi adanya sejumlah luka lebam pada tubuh korban yang mengindikasikan kekerasan fisik berat. Temuan ini kemudian dikuatkan oleh penyelidikan gabungan Bidpropam dan Direktorat Reserse Kriminal Umum.

"Dengan kerja keras kami dari Bid Propam dan Direktorat Kriminal Umum, kami bisa membuktikan bahwa telah terjadi tindak pidana penganiayaan terhadap korban," kata Djuhandhani.

Dalam waktu kurang dari 24 jam sejak kejadian, Polda Sulsel berhasil menetapkan satu tersangka. Tersangka adalah seorang senior korban berpangkat Bripda berinisial P, yang mengaku telah melakukan pemukulan terhadap korban di bagian kepala dan anggota tubuh lainnya.

"Kita menetapkan tersangka atas nama P, berpangkat Bripda, yang merupakan senior dari korban. Ada persesuaian, baik itu dengan cara memukul di bagian kepala maupun tubuh lainnya. Ini sudah sinkron," ungkap Kapolda.

Penetapan tersangka didasarkan pada alat bukti yang sah serta kesesuaian antara keterangan tersangka dengan temuan luka pada jenazah korban.
Lima Anggota Lain Masih Diperiksa
Selain tersangka P, polisi juga masih memeriksa intensif lima orang lainnya yang diduga mengetahui atau terlibat dalam peristiwa tersebut.

Kapolda menjelaskan bahwa kelima orang tersebut merupakan sesama anggota, terdiri dari teman satu angkatan dan rekan korban.

"Dari 5 ini adalah anggota semua, ada teman satu angkatan. Kami hanya memeriksa berkaitan sebagai saksi dan keterlibatannya," tutur Djuhandhani.

Penyidik menegaskan perlunya pengumpulan bukti materiil tambahan untuk menuntaskan kasus secara menyeluruh. Hingga kini, motif di balik penganiayaan tersebut belum diungkapkan secara resmi oleh pihak kepolisian.

Bripda Dirja Pratama merupakan putra dari Aipda Muhammad Jabir, anggota Polres Pinrang. Ia baru saja lulus dari pendidikan Bintara Polri pada tahun 2025 dan baru sekitar satu tahun menjalani tugasnya.

"Baru tahun lalu lulus, kasihan sekali ini anak," ujar salah seorang kerabat korban sambil menunjukkan foto Bripda Dirja saat baru dilantik di SPN Batua.

Jenazah Bripda Dirja dimakamkan pada Senin (23/2/2026) di Desa Pincara, Kabupaten Pinrang. Kapolda Sulsel, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro, turut hadir melepas kepergian almarhum dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.

Kasus ini menambah daftar panjang dugaan kekerasan dalam institusi aparat keamanan di Indonesia. Sebelumnya, publik juga dihebohkan oleh kasus Pratu Farkhan Sauqi yang tewas diduga dianiaya senior di lingkungan TNI AD.

Kasus-kasus semacam ini kembali memantik pertanyaan publik mengenai budaya senioritas yang berujung pada tindak kekerasan di dalam lingkungan militer maupun kepolisian.

Penyelidikan terhadap kematian Bripda Dirja Pratama masih terus berlangsung. Pihak keluarga berharap agar proses hukum berjalan transparan dan pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.


Editor : Saldy



Share:

Komentar Facebook