BREAKING NEWS

Bocah 12 Tahun di Sukabumi Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Tubuh Penuh Luka Bakar

Redaksi Februari 21, 2026 0 Komentar
Bocah 12 Tahun di Sukabumi Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Tubuh Penuh Luka Bakar

JUST
INFO, SUKABUMI — Duka mendalam menyelimuti keluarga dan warga Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menyusul meninggalnya seorang bocah laki-laki berinisial NS (12 tahun), warga Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon.

Korban yang akrab dipanggil Raja ini ditemukan dalam kondisi tubuh penuh luka bakar dan tak lama kemudian dinyatakan meninggal dunia. Dugaan kuat mengarah pada tindak penganiayaan yang dilakukan oleh ibu tirinya sendiri.

Kejadian bermula saat ayah kandung korban, Anwar Satibi (38), tengah bekerja di Kota Sukabumi selama dua hari. Pada malam pertama Ramadan 1447 H, Kamis (19/2/2026), Anwar menerima telepon dari istrinya yang juga merupakan ibu tiri NS. Sang istri mengabarkan bahwa kondisi NS memburuk, mengigau dan demam tinggi.

Setibanya di rumah, Anwar terkejut mendapati kondisi kulit anaknya yang melepuh parah di berbagai bagian tubuh. Ibu tiri korban berdalih bahwa luka tersebut disebabkan oleh demam tinggi. Namun kecurigaan Anwar semakin menguat saat melihat sendiri kondisi NS yang sangat memprihatinkan.

Karena kondisi NS terus memburuk, keluarga segera membawa korban ke RSUD Jampang Kulon pada Kamis sekitar pukul 08.00 WIB. Di ruang IGD itulah, dalam kondisi kritis, NS sempat memberikan keterangan mengejutkan kepada ayah kandung dan kakek angkatnya.

Pengakuan Korban Sebelum Meninggal
Di ruang IGD RSUD Jampang Kulon, NS sempat berbicara kepada ayah dan Isep Dadang Sukmana (62), salah satu pembina pesantren yang dekat dengan korban. Dalam pengakuannya, NS menyebutkan bahwa luka yang dideritanya akibat dipaksa meminum air panas oleh ibu tirinya.

Ayah korban bahkan sempat merekam pengakuan NS dalam sebuah video. Rekaman tersebut kemudian beredar luas di media sosial dan ditonton lebih dari 2,8 juta kali. Dalam video viral tersebut, terlihat luka menyerupai luka bakar di sejumlah bagian tubuh NS, termasuk wajah.

Setelah menjalani perawatan intensif selama delapan jam di RSUD Jampang Kulon, NS dinyatakan meninggal dunia. Jenazahnya kemudian dibawa ke RS Bhayangkara TK II Setukpa Lemdiklat Polri Sukabumi untuk menjalani autopsi pada Jumat dini hari (20/2/2026).

Kepala RS Bhayangkara Setukpa, Kombes Pol dr. Carles Siagian, mengungkapkan bahwa tim forensik menemukan sejumlah luka bakar pada tubuh korban. Luka bakar tersebar di anggota gerak, kaki kiri, punggung, lengan, paha, tangan, hingga area bibir dan hidung. Paru-paru korban juga ditemukan sedikit membengkak.

Meski demikian, pihak forensik belum dapat memastikan apakah luka tersebut merupakan akibat penganiayaan atau bukan. Sampel organ jantung dan paru telah diambil dan dikirim ke laboratorium di Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut, termasuk mendeteksi kemungkinan adanya zat tertentu. Hasil laboratorium masih ditunggu untuk menentukan penyebab pasti kematian.

Ironisnya ini bukan kali pertama, Anwar Satibi mengungkapkan bahwa dugaan kekerasan terhadap NS bukan kali pertama terjadi. Sekitar satu tahun lalu, ia pernah melaporkan ibu tiri korban ke Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) Polres Sukabumi atas dugaan penganiayaan menggunakan benda tumpul. Namun laporan tersebut berakhir damai setelah pelaku meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

NS diketahui sehari-hari tinggal di pesantren. Saat kejadian ini berlangsung, ia sedang libur untuk menyambut bulan Ramadan bersama keluarga.

Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono, membenarkan peristiwa tersebut dan menyatakan pihaknya telah menerima laporan resmi dari keluarga korban. Penyelidikan terhadap dugaan tindak penganiayaan yang melibatkan ibu tiri korban saat ini terus didalami.

Kasus ini mendapat sorotan luas dari publik. Banyak warganet mengecam keras perbuatan tersebut dan mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini secara transparan dan memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku jika terbukti bersalah.


Editor : Saldy



Share:

Komentar Facebook